Batang - Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) Kabupaten Batang terus melakukan pengerukan sedimentasi di muara sungai yang menjadi akses keluar masuk kapal nelayan. Namun, upaya tersebut kerap terkendala faktor cuaca.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dislutkan Batang Agung Wisnu Barata mengatakan, pengerukan terakhir telah berjalan selama 17 hari kerja. Hari Minggu kemarin kita sudah 17 hari pengerukan. Hari ini jalan karena kebetulan cuaca cerah dan panas.
“Awalnya pengerukan ditargetkan selesai dalam 15 kali pekerjaan. Namun kondisi alam membuat endapan kembali menutup alur sehingga jumlah pengerukan harus ditambah. Sebenarnya target kita 15 kali sudah habis terkeruk, tapi ternyata alam seperti ini. Jadi kita tambahi lagi, mungkin sekitar 25 kali pengerukan,” katanya saat ditemui di TPI Batang, Kabupaten Batang, Selasa (10/2).
Dalam sehari, alat yang digunakan mampu mengangkat sekitar 250 meter kubik sedimen. Agung mengakui, penggunaan muara sungai sebagai jalur pelabuhan tradisional memang memiliki kelemahan karena tingkat sedimentasinya tinggi dan terus berulang.
“Ini memang jadi persoalan klasik. Baru dikeruk, sudah tertutup lagi. Untuk jangka pendek, pihaknya tetap memaksimalkan pengerukan, terlebih menjelang Lebaran ketika aktivitas melaut biasanya meningkat,” ungkapnya.
Sementara untuk jangka panjang, dibutuhkan pembangunan kolam tambat labuh agar kapal tidak bergantung pada alur sungai.
“Selama belum ada kolam tambat labuh, ya pendangkalan akan terus ada,” imbuhnya.
Ia juga menilai efektivitas pengerukan dengan alat yang ada saat ini masih terbatas. Dislutkan Batang telah berupaya meminta bantuan peralatan dari daerah lain, termasuk Pekalongan, meski wilayah tersebut menghadapi persoalan serupa.
“Kalau dibilang efektif ya sebenarnya tidak efektif. Kita berharap ada penambahan alat,” harapnya.
Akibat pendangkalan yang cukup parah, sebagian aktivitas kapal untuk sementara dialihkan ke pelabuhan niaga milik pemerintah provinsi. Kehidupan harus tetap berjalan. Jadi sementara kita alihkan ke pelabuhan niaga. Itu pun sifatnya diskresi dan insidentil,” ujarnya.
“Pemerintah berharap, cuaca segera membaik sehingga proses pengerukan dapat kembali optimal dan akses nelayan menjadi lebih lancar,” tandasnya.





